Home Fakta Ditembak Rp15 Juta Agar Masuk SMAN 1 Bekasi, Wali Murid Kecewa Berat

Ditembak Rp15 Juta Agar Masuk SMAN 1 Bekasi, Wali Murid Kecewa Berat

Loading...

Salah seorang wali murid Damayanti (52) kecewa putrinya tak dapat masuk SMAN 1 Bekasi.

Padahal, jarak kediaman warga Bekasijaya, Bekasi Timur itu, cukup dekat, yakni 1,2 kilometer.

Dia menyebut anaknya tersingkir dengan calon peserta didik lain karena skor jarak rumahnya yang lebih dekat.

Loading...

Dia tak mempermasalahkan hal itu, tapi Damayanti menilai PPDB Online di Kota Bekasi belum adil.

Dia bercerita, ada salah satu teman putrinya tersebut bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Bekasi dengan jarak ke SMAN 1 Bekasi otomatis lebih jauh dibandingkan kediaman Damayanti.

“Anak saya punya teman, dia keceplosan cerita ke anak saya begini ‘Ibu gua kan udah mindahin gua’. ‘Ke mana?’ kata anak saya. ‘Ke lapangan burung’,” jelasnya.

Hal ini bertujuan supaya, siswa dapat lolos seleksi jalur zonasi dengan memindahkan alamat sesuai KK dengan letak yang dekat dengan sekolah.

Pada Sabtu (4/7) dia sempat datang ke SMAN 1 Bekasi untuk memastikan peluang anaknya. Dia diarahkan ke Bagian Tata Usaha. Di sana dia bertemu dengan petugas.

“Petugas TU (Tata Usaha) bilang kalau saya sebaiknya balik lagi hari Senin, ya udah saya keluar, pas saya keluar itu satpam menyamperin saya, itu benar-benar tidak saya terpikirkan,” ujarnya.

Damayanti lantas ditanya oleh oknum satpam terkait kendala PPDB yang tengah ia hadapi, dengan polosnya dia bercerita kalau skor jarak anaknya saat ini 1,2 kilometer.

“Saya jadi cerita ke dia (satpam) bahwa ada banyak anak-anak yang saya tahu (rumahnya jauh dari sekolah tapi skornya dekat),” jelasnya.

“Sebenarnya bukan kapasitas dia buat jawab tapi saya cerita aja, apa coba jawaban dia, ‘Ibu mau dirubah?’ ‘Saya udah dapat tiga lo, Bu’. Saya kaget terus saya tanya emang berapa pak? ‘Rp15 juta, Bu’,” katanya saat bercerita.

Damayanti lantas terdiam dan tidak menyangka, sekolah yang selama ini dianggap bagus ternyata memiliki praktik curang.

“Saya sampe enggak bisa ngomong, ini langsung nembak duit ini, enggak ngomong prosedur begini-begini segala macem,” terang dia.

Usai mendengar perkataan oknum petugas tersebut, Damayanti mulai pudar kepercayaan dengan institusi pendidikan yang sempat dia anggap bagus.

Bahkan, pertanyaan besar terkait praktik pindah domisili juga dianggapnya sudah terjawab dengan sikap salah oknum yang membocorkan adanya jual beli kursi.

Damayanti dengan kebesaran hati mencoba memberikan pengertian ke putrinya, dia lantas mendaftarkan anaknya ke salah satu SMA swasta tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Saya bukan apa-apa, kalau masalah uang saya daftar anak saya ke swasta jauh lebih mahal dari itu, artinya kalau jalurnya bener saya mau bayar,” tutupnya.

Sumber: pojoksatu.id

Loading...